SEDEKAH ADALAH BUKTI

KTQS # 1525

💐💐 SEDEKAH ADALAH BUKTI 🌸🌸

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Sedekah adalah bukti”. (HR. Muslim)

Imam Nawawi : “Yaitu bukti kebenaran imannya. Oleh karena itu shadaqah dinamakan demikian karena merupakan bukti dari Shidqu Imanihi (kebenaran imannya)”.

Sedekah dapat membebaskan pelakunya dari siksa kubur.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam : “Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur”. (HR. Thabrani, Shahih At Targhib, 873)

Pahala sedekah yang dikeluarkan seseorang akan terus mengalir kepadanya, walau ia sudah berada di liang kuburnya.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam : : “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah pahala amalnya kecuali tiga perkara; salah satunya, shodaqoh jariyah”. (HR. Muslim)

Sedekah menyelamatkan pelakunya dari jilatan api neraka.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam : “Hindarkan dirimu dari neraka walaupun hanya dengan separoh butir kurma, jika tidak ada maka dengan tutur kata yang baik”. *(Muttafaq ‘alaih)

Sedekah itu walaupun sedikit, memiliki andil untuk menjauhkan kita dari api neraka. Semakin banyak sedekah, semakin jauh kita darinya.

Maka perbanyaklah bersedekah. Karena sedekah menjadi salah satu sebab utama yang bisa menyelamatkannya di akhirat.

Dan orang yang sudah meninggal pun sesungguhnya mereka sangat berharap kembali ke dunia untuk bisa bersedekah dan beramal shalih, maka itu bagi putra putrinya wujudkanlah harapan mereka.

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh”.
(QS. Al-Munafiqun: 10)

Salam !

🌸💐🌸💐🌸💐🌸

Advertisements

JANGAN GEER DAN BAPER AH

KTQS # 1524

JANGAN GEER DAN BAPER AH 😁

‎إِنْ أَحْسَ‍‍نت‍‍ُمْ أَحْسَ‍‍نت‍‍ُمْ لِأَ‍‍نف‍‍ُسِكُمْ‌ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

In Ahsantum Ahsantum Lianfusikum Wa in Asaktum Falaha

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat…”. (QS.Isra (17) :7)

Maknanya adalah jika kalian berbuat baik berarti kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri karena sesungguhnya pahala kebaikan itu untuk diri kalian sendiri dan jika kalian berbuat jahat maka kejahatan itu bagi diri kalian sendiri sebagai pembalasan atas kejahatan kalian.

Maka dari itu terimalah kebaikan orang lain yang berbuat baik kepada kita dan doakan mereka, karena sesungguhnya dia sedang berbuat baik untuk dirinya dan doa itupun untuk dirinya, serta agar saat kita berbuat baik kepada orang lain pun diterima baik oleh mereka, sehingga kebaikan kita kembali kepada diri kita sendiri.

Lalu jika orang lain berbuat jahat kepada kita, biarkan saja, tenangkan hati dan jaga emosi, karena sesungguhnya dia sedang berbuat jahat kepada dirinya sendiri. Jadi untuk apa kita risau dan gelisah atas kejahatan orang lain kepada kita, Allah yang akan membalasnya melalui kejahatan nya itu.

Muslim yang cerdas akan banyak berbuat baik dan menghindari perbuatan jahat, karena kebaikan itu akan kembali kepada dirinya dan menjadi kebaikan yang Multi Level Pahala (MLP), Pahala Yang Mengalir Tiada Henti Sampai Akhir Jaman, Walau Kita sudah Mati. Pahala Yang Menemani Kita selama di Alam Kubur Untuk Menanti Hari Hisab.

Kalau ada orang yang baik kepada kita, sesungguhnya kebaikan itu bukan untuk kita tapi untuk dirinya.

Jadi jangan dulu geer dan baper ya…💐😊

Salam !

DOA DAN AMALAN DARI ANAKNYA

KTQS # 1523

🌷 DOA DAN AMALAN DARI ANAKNYA 💖

Do’a dari orang lain memang bermanfaat untuk mayit, namun do’a yang lebih manfaat adalah do’a dari anaknya sendiri.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,
“Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya”. (HR. Muslim no. 1631)

“Sesungguhnya yang akan selalu menemani orang beriman adalah ilmu dan kebaikannya. Setelah matinya ada ilmu yang ia ajarkan dan ia sebarkan, begitu pula anak shalih yang ia tinggalkan, juga ada di situ mushaf yang ia wariskan atau masjid yang ia bangun, atau rumah untuk ibnus sabil yang ia bangun, atau sungai yang ia alirkan, atau sedekah yang ia keluarkan dari hartanya ketika ia sehat dan semasa hidupnya. Itu semua akan menemaninya setelah matinya”. (HR. Ibnu Majah no. 242)

Di samping do’a dari anak, amal shalihnya pun sebenarnya bermanfaat untuk orang tuanya, tanpa harus diniatkan untuk kirim pahala pada orang tuanya.

Hal ini disimpulkan dari ayat,
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”. (QS. An Najm: 39)

Lalu dalam hadits disebutkan,
“Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua.” (HR. Abu Daud no. 3528 dan An Nasa’i no. 4451)

Ini berarti amalan dari anaknya yang shalih bermanfaat untuk orang tua walaupun sudah berada di liang lahat karena anak adalah hasil jerih payah orang tua yang pantas mereka nikmati.

Jadi, setiap amal shaleh yang dilakukan anaknya maka orangtua yang sudah wafat akan tetap mendapatkan pahala yang sama dengan anaknya, anak nasab atau yang bukan nasabnya. Masya Allah…

Karenanya banyak-banyaklah berdoa dan beramal shaleh, selain dirimu sendiri, orangtuamu yang sudah wafat akan menikmatinya juga.

Salam !🌷

AMALAN YANG PANJANG USIANYA

KTQS # 1522

AMALAN YANG PANJANG USIANYA

Amalan yang bermanfaat bagi mayit walaupun ia sudah di alam kubur

Dari Abu Hurairah radliallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh”. (HR. Muslim no. 1631)

Makna hadits diatas adalah :

Pertama: Jika manusia itu mati, amalannya terputus. Dari sini menunjukkan bahwa seorang muslim hendaklah memperbanyak amalan sholeh sebelum ia meninggal dunia.

Kedua: Allah menjadikan sebab sehingga setelah meninggal dunia sekali pun, ia masih bisa mendapat pahala, inilah karunia Allah yang harus dimanfaatkan hamba.

Ketiga: Ada amalan yang masih terus mengalir pahalanya walaupun setelah meninggal dunia, di antaranya:

💞 a. Sedekah jariyah, seperti menyantuni yatim, membagikan buku yang bermanfaat, menyebarkan kebaikan, dll.

💞 b. Ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang ia ajarkan pada orang lain dan mereka terus amalkan atau ia menulis buku yang bermanfaat dan terus dimanfaatkan setelah ia meninggal dunia.

💞 c. Anak yang sholeh, karena anak sholeh itu hasil dari kerja keras orang tuanya. Oleh karena itu, Islam amat mendorong seseorang untuk memperhatikan pendidikan anak-anak mereka dalam hal agama, sehingga nantinya anak tersebut tumbuh menjadi anak sholeh.

Makna “anak sholeh yang mendo’akannya”, tidaklah dipahami bahwa do’a yang diterima hanya dari anak kandung saja namun termasuk dari anak yang bukan kandung dimana kita ikut mendidiknya atau membantunya menjadi anak yang shaleh.

Karenanya, banyak-banyaklah melakukan amal-amal shaleh yang panjang usianya dibanding usia biologisnya, yang terus mengalir sampai hari kiamat, yaitu tiga amalan diatas. Itulah yang dinamakan oleh kami dalam program-program Panti Asuhan Daarul Arqom sebagai program MULTI LEVEL PAHALA (MLP).

Ayo Sahabat Yatim, manfaatkan sisa usia yang masih ada untuk beramal Multi Level Pahala.

Salam

HIZBULLAH dan HIZBU SYAITHAN

KTQS # 1521

💥 HIZBULLAH dan HIZBU SYAITHAN 💥

Kebenaran dan kejahatan adalah dua kubu yang tidak mungkin bersatu.

Kebenaran didukung oleh Allah ‘azza wa jalla sedangkan kejahatan didukung oleh setan dan pasukannya.

Siapa yang mendukung setan maka dia menjadi musuh Allah dan dia tidak mungkin meraih kemenangan.

Hizb ( kelompok/golongan ) di dalam Al-Qur’an ada dua bentuk dan tidak ada yang ketiga, yaitu Hizbullah dan Hizbusy-syaithan

Tidak ada Hizb Ketiga yaitu Hizb Pertengahan atau Hizb Penyeimbang, jika ada maka sesunguhnya mereka termasuk kaum munafik dan masuk kedalam Hizbu Syaithan.

Setiap hizb ini memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri nya.

💥 CIRI-CIRI HIZBULLAH

Kata “hizbullah” di dalam Al-Qur’an disebutkan tiga kali
Satu kali dalam surat Al-Maidah ayat 56.
“Maka sesungguhnya Hizbullah merekalah orang-orang yang menang”.

Dan dua kali dalam Al Quran surat Al-Mujadilah ayat 22
“Mereka adalah hizbullah (golongan Allah ‘azza wa jalla) dan ketahuilah sesungguhnya hizbullah merekalah yang akan menang”.

Bila kita renungi kedua surat di atas maka akan menemukan sepuluh ciri-ciri hizbullah, di antaranya
1. Berwala’ (loyal) kepada Allah subhanahu wa ta’ala
2. Berwala’ kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam
3. Berwala’ kepada orang-orang yang beriman.
4. Cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala
5. Cinta kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam
6. Cinta kepada hamba-hamba Allah yang beriman.
7. Merendahkan diri di hadapan orang-orang yang beriman.
8. Berbangga dengan agamanya di hadapan orang-orang kafir.
9. Menampakkan kalimat haq sesuai batasan-batasan syariat.
10. Berjihad di jalan Allah untuk meninggikan kalimat Allah ‘azza wa jalla.

(Lihat kitab al-Manhajul Qawim at-Ta’assi bi ar-Rasul al-Karim karya asy-Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi al-Madkhali, hlm. 40)

 

💥 CIRI-CIRI HIZBU SYAITHAN

1. Menyeru manusia kepada keburukan & mencegah dari kebaikan,

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan sebagian mereka terhadap sebagian yang lain adalah sama, mereka menyeru kepada yang mungkar dan mencegah dari yang ma’ruf.”
(at-Taubah: 67)

2. Merasa senang bila kekejian tersebar di kalangan kaum muslimin baik secara individu maupun jamaah, menyakiti mereka dengan cara melemparkan tuduhan palsu.

“Sesungguhnya orang-orang yang suka tersebarnya kekejian di tengah orang-orang yang beriman, bagi mereka adalah azab yang pedih.”
(an-Nur: 19)

3. Mengibarkan permusuhan kepada orang-orang yang beriman.

“Barang siapa yang memusuhi waliku, maka sungguh Aku umumkan perang kepadanya.”
(HR. al-Bukhari dan Ahmad)

4. Pendusta dan Pembohong

“Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit dan bagi mereka azab yang pedih.”
(an-Nahl: 116—117)

5. Mencela syariat dan pemeluknya.

“Katakanlah, apakah kepada Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian mencela? Tidak ada alasan (bagi kalian), sungguh kalian telah kafir setelah beriman.”
(at-Taubah: 65—66)

6. Merasa senang bila kekejian tersebar di kalangan kaum muslimin baik secara individu maupun jamaah, menyakiti mereka dengan cara melemparkan tuduhan palsu.

“Sesungguhnya orang-orang yang suka tersebarnya kekejian di tengah orang-orang yang beriman, bagi mereka adalah azab yang pedih.”
(an-Nur:19)

7. Mendebat kebenaran dengan segala kebatilan.

“Dan di antara manusia ada yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling keras..”. (al-Baqarah: 204)

Salam !✨

BACAAN YANG DISUNNAHKAN UNTUK ORANG MATI, BUKAN “RIP” dan BUKAN PULA “ALMARHUM”

KTQS # 1520

BACAAN YANG DISUNNAHKAN UNTUK ORANG MATI, BUKAN “RIP” dan BUKAN PULA “ALMARHUM”

Diantara doa yang dibaca oleh panutan kita Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah ketika meninggalnya sahabat Abu Salamah radhliallahu anhu, beliau membaca,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لأَبِى سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِى الْمَهْدِيِّين وَاخْلُفْهُ فِى عَقِبِهِ فِى الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَافْسَحْ لَهُ فِى قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ

“Ya Allah ampunilah Abu Salamah, angkatlah derajatnya di tengah orang-orang yang mendapatkan hidayah, gantikanlah sepeninggalnya untuk orang-orang yang ia tinggalkan, ampunilah kami dan dia wahai Rabbal ‘aalamiin, luaskanlah kuburannya dan terangilah dia padanya”. (HR. Muslim dari Ummu Salamah radliallaha anha)

• Boleh membaca istirja’ yaitu “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’un” & mendoakan si mayyit agar diampuni & dirahmati. Tidak ada dalil yang shahih membacakan Al-Fatihah, Yasin dan surat-surat lainnya, hadits-hadits nya lemah & palsu.

• Makna “RIP” (Beristirahatlah dalam damai). Ucapan tersebut tidak boleh karena itu kebiasaan orang kafir. Bagi jenazah orang kafir sebut saja : Mendiang.

* Kata “Almarhum” bukanlah gelar atau sebutan bagi orang islam yang sudah meninggal, ini kebiasaan masyarakat kita yang salah kaprah.

* Pengucapan “Almarhum” (artinya : yang dirahmati) kuranglah tepat karena kita tidak boleh memastikan sesuatu, sebab kita tidak tahu kondisi orang yang mati itu, apakah ia mendapat nikmat atau azab kubur dan termasuk penghuni surga atau neraka.

* Namun jika makna “Almarhum” itu sebagai ungkapan optimisme atau harapan semoga si mayit mendapatkan rahmat, maka tidaklah mengapa mengucapkan kata-kata ini. (Lihat Majmu’ Fatawa, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, 3/85)

• Ada ucapan yang lebih baik selain “Almarhum”, yaitu “Rahimahullah” (atau Allah Yarham) yang artinya “Semoga Allah merahmatinya” dan ini adalah doa. Sehingga saat menyebut nama dan diakhiri dengan kata itu maka sekaligus kita mendoakannya.

Salam !

🌻🍂🌻🍂🌻🍂🌻

SYA’BAN

KTQS # 1517

🌷 SYA’BAN 💐

Dari A’isyah radhliallaha anha menceritakan, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam puasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat Beliau shalallahu alaihi wasallam puasa lebih banyak dalam sebulan dibandingkan dengan puasa Beliau pada bulan Sya’ban”. (HR Bukhari, no. 1969 dan Muslim, no. 1156 dan 176)

“Beliau shalallahu alaihi wasallam berpuasa penuh pada bulan Sya’ban”. (HR.Bukhari, no. 1970)

“Beliau shalallahu alaihi wasallam berpuasa pada bulan Sya’ban kecuali sedikit”. (HR Muslim, no. 1156 dan 176)

Imam Ahmad dan Imam Nasa’i meriwayatkan sebuat hadits dari Usamah bin Zaid radhliallahu anhu, beliau mengatakan : “Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak pernah berpuasa dalam sebulan sebagaimana Beliau berpuasa pada bulan Sya’ban. Lalu ada yang berkata, ‘Aku tidak pernah melihat anda berpuasa sebagaimana anda berpuasa pada bulan Sya’ban.’ Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjawab, ‘Banyak orang melalaikannya antara Rajab dan Ramadhan (Sya’ban). Padahal pada bulan itu, amalan-amalan makhluk diangkat kehadirat Rabb, maka saya ingin amalan saya diangkat saat saya sedang puasa”. (HR Ahmad, 5/201 dan Nasa’i, 4/102)

Dari beberapa hadits tersebut diatas dapat diambil kesimpulan : Bahwa memperbanyak puasa dibulan Sya’ban adalah disyariatkan dan disunnahkan. Puasa yang dimaksudkan disini adalah puasa-puasa sunnah seperti, Senin-Kamis, Yaumul bidh, Daud atau puasa wajib untuk membayar hutang puasa Ramadhan tahun lalu.

Jadi tidak ada satupun hadits yang menyebutkan “Puasa Sya’ban”, tapi hanya disebutkan “Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban”

Salam !