JIKA INGIN MASUK SURGA JAGA SILATURAHIM DI HARI SENIN & KAMIS

KTQS # 1603

INGIN MASUK SURGA?
JAGA SILATURAHIM DI HARI SENIN & KAMIS

Secara umum menjaga silaturahim hukumnya wajib, dan memutuskannya/merusaknya merupakan suatu keharaman. Menjaga silaturahim itu berlaku mutlak, kapan pun dan dimana pun.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman : “Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim”. (QS. an-Nisa’/4: 1)

Ibnu Abbas radliallahu anhu memberitakan bahwa Abu Sufyan pernah mengatakan kepada raja Heraklius tentang dakwah Nabi ﷺ, dia berkata :

“Muhammad memerintahkan kami shalat, shadaqah, menjaga kehormatan dan silaturahim”.
(HR. al-Bukhari)

Khusus hari Senin & Kamis dosa-dosa diampuni kecuali yang menyekutukan Allah (syirik) & memutuskan/merusak silaturahim. Untuk itu jangan sampai memutuskan/merusak silaturahim di hari Senin & Kamis.

Ini berdasarkan hadits nabi, dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

“Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai’ ”. (HR. Muslim)

Dengan demikian, mari besemangat di hari Senin & Kamis, tetapkan niat untuk beramal shaleh dgn sebaik-baiknya, seperti banyak bersedekah, membantu orang lain dalam kesusahan, syukur jika bisa diikuti dengan puasa sunnah, sehingga sempurnalah diri menerima keberkahan luar biasa di kedua hari tersebut. Jika tidak mampu berpuasa maka perbaiki amalan yang lain dan jangan ada permusuhan terhadap sesama.

Salam !

Advertisements

KEUTAMAAN ILMU SYARIAT

KTQS # 1602

KEUTAMAAN ILMU SYARIAT

Ilmu adalah kunci segala kebaikan. Ilmu merupakan sarana untuk menunaikan apa yang Allah wajibkan pada kita. Tak sempurna keimanan dan tak sempurna pula amal kecuali dengan ilmu. Dengan ilmu Allah disembah, dengannya hak Allah ditunaikan, dan dengan ilmu pula agama-Nya disebarkan.

Kebutuhan pada ilmu lebih besar dibandingkan kebutuhan pada makanan dan minuman, sebab kelestarian urusan agama dan dunia bergantung pada ilmu. Imam Ahmad mengatakan, “ Manusia lebih memerlukan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan dua atau tiga kali sehari, sedangkan ilmu diperlukan di setiap waktu ”

Jika kita ingin menyandang kehormatan, kemuliaan, kewibawaan, kekayaan, kedigdayaan, kebangsawanan, maka kita mesti berilmu.

Namun, yang dimaksud dengan kata ilmu di sini adalah ilmu syar’i
Yaitu ilmu yang akan menjadikan seorang mukallaf (Baligh & Berakal) mengetahui kewajibannya berupa masalah-masalah ibadah dan muamalah, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifatNya, hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, dan mensucikan-Nya dari berbagai kekurangan”. (Fathul Baari, ) 1/92

Dari penjelasan Ibnu Hajar rahimahullah di atas, jelaslah bawa yang dimaksud adalah ilmu syar’i
Oleh karena itu, merupakan sebuah kesalahan bahwa kewajiban dan keutamaan menuntut ilmu adalah ilmu duniawi.

Namun bukan berarti mengingkari manfaat belajar ilmu duniawi. Karena tergantung pada niatnya
Apabila digunakan dalam kebaikan, maka baik. Dan apabila digunakan dalam keburukan, maka buruk. (Lihat Kitaabul ‘Ilmi, hal. 14)

Salam !

TIGA JENIS TAUHID

KTQS # 1600 – 1601

TIGA JENIS TAUHID

Di dalam bahasa Arab, tauhid adalah mashdar dari kata وَحَّدَ* – يُوَحِّدُ *– تَوْحِيْدًا yang berarti mengesakan.

Adapun menurut istilah, tauhid adalah “meyakini akan ke-esa-an Allah subhanahu wa ta’ala dalam rububiyah (penciptaan, pemeliharaan, pemilikan), uluhiyyah (ikhlas beribadah kepadaNya) dan dalam Al-Asmaa wash-shifaat (nama-nama dan sifat)-Nya“.

Dan tauhid apabila dimutlakkan, maka maknanya adalah memurnikan seluruh peribadatan hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala.

Seorang muslim wajib mengimani akan keesaaan Allah subhanahu wa ta’ala dan bahwasannya tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, adapun kalimat Tauhid itu sendiri maka yang dimaksud ialah  La ilaha illah  yang berarti tidak ada yang berhak disembah selain Allah.

Allah subhanahu WA ta’ala berfirman : “Dan tuhan kamu adalah tuhan yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, yang Maha pengasih, Maha penyayang”.

(QS. Al-Baqarah: 163)

 

Tauhid terbagi menjadi tiga, yaitu :

1. Tauhid Rububiyah

Artinya mengesakan Allah subhanahu WA ta’ala dalam hal perbuatanNya. Seperti mencipta, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan, dan lain-lain yang merupakan perbuatan khusus bagi Allah yang tidak bisa dilakukan oleh manusia maupun jin.

Mengenai Tauhid Rububiyah ini kaum Musyrikin di zaman Nabi ﷺ pun meyakininya, Allah berfirman : “Katakanlah, “Siapakah Tuhan yang memiliki langit yang tujuh dan yang memiliki ‘Arsy yang agung ?mereka akan menjawab milik Allah, “ katakanlah, “maka kenapa kamu tidak bertakwa ?”.

(QS. 23:86-87, lihat juga ayat 84-85, 88-89)

Jelas dahulu pun kaum musyrikin mengikrarkan Tauhid Rububiyah, itu dikarenakan Tauhid Rububiyah merupakan fitroh setiap manusia.

Rasulullah ﷺ telah bersabda :
“Setiap anak yang dilahirkan, dalam keadaan Fitroh maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nashrani, atau majusi”. (HR.Bukhari dan Muslim)

 

2. Tauhid Uluhiyyah

Artinya, mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dalam beberapa macam peribadatan yang telah disyariatkan olehNya. Seperti, shalat, puasa, zakat, haji, do’a, nadzar, sembelihan, berharap, cemas, takut, dan sebagainya yang termasuk jenis-jenis ibadah.

Mengesakan Allah dalam hal-hal tersebut dinamakan Tauhid Uluhiyah (tauhid ibadah), dan Tauhid jenis inilah yang dituntut oleh Allah dari hamba-hambaNya, yaitu mengesakan Allah dalam hal ibadah.

Jika mereka mengikrarkan Tauhid Rububiyah, maka hendaknya juga mengakui Tauhid Uluhiyah. Para Rasul diutus oleh Allah adalah untuk menyeru kepada Umat mereka agar meyakini Tauhid Uluhiyah meyakini dalam artian melaksanakan apa yang telah Allah perintahkan kepada hamba–hambaNya dalam bentuk peribadahan dan tidak beribadah untuk selainNya.

Allah berfirman : “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut…”.

(QS. An-Nahl: 36)

 

3. Tauhid Asma Was Sifat*

Yaitu menetapkan nama-nama dan sifat-sifat untuk Allah subhanahu wa ta’ala sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Allah untuk diriNya maupun yang telah ditetapkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam  tanpa mentakwil (ta’wil) , memisalkan (tamtsil), _menanyakan bagaimananya (takyif) dan _meniadakan (ta’thil) dari nama dan sifat tsb.

Allah subhanqhu wa ta’ala telah menyatakan bahwa Ia memiliki nama-nama yang husna (baca: sangat baik/indah) dan Ia memerintahkan kita untuk berdo’a dengan nama–namaNya, Allah telah berfirman : “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam nama-namaNya nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”
(Al-A’raf : 180).

Tiga jenis Tauhid di atas, wajib diketahui oleh setiap muslim karena Tauhid adalah pondasi keimanan seseorang kepada Allah.
Tanpa ketiga Tauhid diatas adalah kafir.

Kita ingin hidup & mati dengan “La ilaha illallah”*

Salam !

DUNIA UNTUK EMPAT ORANG

KTQS # 1599

DUNIA UNTUK EMPAT ORANG

Hadits dibawah ini menjadi renungan bahwa setiap orang akan mendapatkan yang ia niatkan walau ia tidak sampai beramal, asal kan sudah punya tekad yang kuat untuk beramal.

Dari Abu Kabsyah Al Anmariy, bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda, “ Dunia telah diberikan pada empat orang :

Orang pertama, diberikan rizki dan ilmu oleh Allah. Ia kemudian bertakwa dengan harta & ilmunya tadi kepada-Nya, menjalin hubungan dengan kerabatnya, dan ia pun tahu kewajiban yang ia mesti tunaikan pada Allah. Inilah sebaik-baik kedudukan.

Orang kedua, diberikan ilmu oleh Allah namun tidak diberi rizki berupa harta oleh Allah. Akan tetapi ia punya niat yang kuat (tekad) sembari berujar, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku akan beramal seperti  si fulan.’ Orang ini akan mendapatkan yang ia niatkan. Pahalanya pun sama dengan orang yang pertama.

Orang ketiga, diberikan rizki oleh Allah berupa harta namun tidak diberikan ilmu. Ia akhirnya menyia-nyiakan hartanya tanpa dasar ilmu, ia pun tidak bertakwa dengan harta tadi pada Rabbnya dan ia juga tidak mengetahui kewajiban yang mesti ia lakukan pada Allah. Orang ini menempati sejelek-jelek kedudukan.

Orang keempat, tidak diberikan rizki oleh Allah berupa harta maupun ilmu. Dan ia pun berujar, ‘Seandainya aku memiliki harta, maka aku akan berfoya-foya dengannya.’ Orang ini akan mendapatkan yang ia niatkan. Dosanya pun sama dengan orang ketiga“. (HR. Tirmidzi no. 2325)

Dengan niat saja, bisa bernilai kebaikan. Namun harus dibarengi dengan tekad bukan angan-angan saja, tekad dalam kebaikan, pasti ada persiapan yang matang dan langkah nyata yang ingin ditempuh.

Sungguh Pemurah dan Pengasih nya Allah kepada ummatnya.

Masihkah kita bermalas-malasan dalam beribadah dan berhitung-hitung dalam bersedekah?

Tidak bermalukah kita kepada Allah?

Sungguh sombong nya manusia menyangka semua yang didapat adalah hasil usaha dan diakui pula sebagai miliknya !

Salam !

NIAT DICATAT SEBAGAI KEBAIKAN

 

KTQS # 1598

NIAT DICATAT SEBAGAI KEBAIKAN

Sebagian kita barangkali belum mengetahui bahwasanya dengan niatan saja untuk beramal (maksudnya: tekad) kuat namun tidak jadi mengamalkan karena suatu sebab, itu sudah bernilai pahala dan dicatat satu kebaikan. Bagaimana halnya jika sampai diamalkan. Hal ini menunjukkan bahwa hendaklah kita bersemangat dalam kebaikan, bahkan bertekad kuat untuk melakukan banyak amalan sholih.

“Sesungguhnya Allah mencatat berbagai kejelekan dan kebaikan lalu Dia menjelaskannya. Barangsiapa yang bertekad untuk melakukan kebaikan lantas tidak bisa terlaksana, maka Allah catat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia bertekad lantas bisa ia penuhi dengan melakukannya, maka Allah mencatat baginya 10 kebaikan hingga 700 kali lipatnya sampai lipatan yang banyak”. (HR. Bukhari no. 6491 dan Muslim no. 130)

Ibnu Rajab Al Hambali berkata, “Yang dimaksud ‘ hamm ’ (bertekad) dalam hadits di atas adalah bertekad kuat yaitu bersemangat ingin melakukan amalan tersebut. Jadi niatan tersebut bukan hanya angan-angan yang jadi pudar tanpa ada tekad dan semangat”. (Jaami’ul Ulum wal Hikam, 2: 319)

“Tidaklah seseorang bertekad untuk bangun melaksanakan shalat malam, namun ketiduran mengalahkannya, maka Allah tetap mencatat pahala shalat malam untuknya dan tidurnya tadi dianggap sebagai sedekah untuknya”.
(HR. An Nasai no. 1784)

Perihal bertekad dalam beramal ada beberapa hadits lainnya, “Barangsiapa yang berdo’a pada Allah dengan jujur agar bisa mati syahid, maka Allah akan memberinya kedudukan syahid walau nanti matinya di atas ranjangnya”.
(HR. Muslim no. 1908)

‘Aisyah radliallaha anha mengabarkan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seseorang bertekad untuk bangun melaksanakan shalat malam, namun ketiduran mengalahkannya, maka Allah tetap mencatat pahala shalat malam untuknya dan tidurnya tadi dianggap sebagai sedekah untuknya”.
(HR. An Nasai no. 1784)

“ Bertekad untuk melakukan kebaikan sudah seperti orang yang melakukannya.”

Salam !

KEBAIKAN ITU MEMANTUL

KTQS # 1597

KEBAIKAN ITU MEMANTUL

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik amal Shalih adalah agar engkau memasukkan kegembiraan kepada saudaramu yang beriman”.
(HR. Ibnu Abi Dunya, Jamiush Shaghir no. 1096)

Hadist ini cukup berat di amalkan karena sifat tabiat manusia lebih suka menyenangkan dirinya sendiri, baru orang lain. Memang karena sifat dasar manusia adalah egois dan ingin menang sendiri. Jangan sampai terbalik : “Senang orang lain susah dan susah kalau orang lain senang”.

Bahkan puncak keimanan seseorang muslim adalah dia lebih mendahulukan kepentingan saudaranya dibanding diri mereka sendiri, sebagaimana pujian Allah kepada kaum Anshar yang menolong kaum Muhajirin.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka sendiri sangat membutuhkan/dalam kesusahan”. (QS. Al-Hasyr: 9)

Semoga kita selalu bisa menggembirakan dan membahagiakan orang lain.

Bukankah kebaikan itu akan kembali kepada dirinya?

Bukankah kebaikan kepada orang lain itu sesungguhnya dia sedang berbuat baik kepada dirinya sendiri?

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Al Isra’ ayat 7 yang bunyinya,

‎إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ

” Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri…”.

Kebaikan itu memantul kepada pelakunya.

So, banyak-banyaklah berbuat baik, maka kita akan panen kebaikan. Pasti !

Salam !

MANUSIA PALING BERPENGARUH DI DUNIA

 

KTQS # 1596

MANUSIA PALING BERPENGARUH DI DUNIA

Michael Hart, menghabiskan 28 tahun dari usianya menyusun buku ” 100 Orang Paling Berpengaruh Di Dunia” – “The Great Hundred”.

Ia menempatkan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassallam pada urutan No.1, penempatan yang menuai protes dan kritik pedas diberbagai tempat ia mempresentasikan bukunya itu.

Michael Hart berkata : “Muhammad itu seorang laki-laki biasa yang tinggal di kota kecil Makkah, ia lalu menyeru orang-orang : “‘Aku ini Rasulullah (Utusan Allah) atas kalian, aku diutus untuk menyempurnakan akhlakmu’.

Dan saat itu hanya 4 orang saja yang beriman/percaya padanya, istrinya, karibnya dan 2 orang anak, saat ini, setelah 1400 tahun berlalu jumlah orang yang beriman pada Nabi Muhammad mencapai 1,5 Milyar di seluruh dunia ini dan terus menerus bertambah.

Bila yang disampaikannya adalah kebohongan, tidak akan pernah ada kebohongan yang mampu bertahan selama 1400 tahun dan tidak ada kebohongan yang mampu membohongi 1,5 Milyar manusia”.

Allahumma Shalli ‘Ala Muhammad Wa ‘Ala Ali Muhammad.

DALIL-DALIL

“Bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.
(QS. Al-Ahzab: 56)

“‘Wahai Rasulullah, Bagaimanakah bacaan shalawat kepadamu?’. Beliau bersabda, ‘Ucapkanlah, ‘ Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad ‘ “. (HR. Bukhari dan Muslim)

Salam !